Tiga penghuni pertama neraka adalah seorang mujahid, seorang ahli sedekah, dan seorang ahli Al Qur’an.

Sharing is caring!

Dalam hadits Nabi Muhammad itu dijelaskan, ketiga penghuni pertama neraka bukanlah ahli maksiat, melainkan ahli kebaikan, ahli amal shaleh. Mereka berperang di jalan Allah dan meninggal di medan jihad. Mereka gemar berbagi (ahlushshodaqah), dan gemar membaca dan mengajarkan Al Qur’an (Ahlul-Quran).

Tetapi, yang tersembunyi dari pandangan manusia, ternyata mereka berjihad karena ingin dikatakan sebagai pemberani. Mereka bersedekah karena ingin dikatakan sebagai dermawan. Mereka rajin baca Al-Quran dan belajar ilmu agama serta mengajarkannya karena ingin dikatakan qâri’ (ahli membaca Al-Quran) dan orang pintar agama (‘ulama).

Ya, mereka tergelincir besar karena urusan yang kita anggap ‘’kecil’’, yaitu: niat; kalau kata orang Betawi, nawaitunye pegimane? Buat sape kita beramal?

Padahal, kebangetan banget jika seorang muslim belum pernah mendengar hadits yang menjadi urutan pertama dalam kajian kitab Al-Arba’in An-Nawawi, tentang ungkapan Rasulullah yang dikutip oleh Umar bin Khattab saat ‘‘Singa Padang Pasir’’ ini berkhutbah :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ هَاجَرَ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amalan-amalan itu sah dengan niat, dan setiap orang hanya mendapat apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrah karena Allah dan RasulNya, ia mendapat pahala hijrah karena Allah dan RasulNya. Dan barang siapa hijrah karena dunia yang ingin dia raih atau wanita yang ingin dia nikahi, maka itulah yang ia dapat dari hijrahnya”

(HR al-Bukhari dan Muslim).

Setelah membacakan hadits tersebut, Kyai Kosasih melanjutkannya dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan Nasai. Inilah hadits yang bikin gemetar jamaah:

“إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ :فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ.” قَالَ: “كَذَبْتَ! وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ.” فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ.

“Sesungguhnya, orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Selanjutnya, orang itu dibawa menghadap dan ditunjukkan kepada kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya hingga orang itu mengetahuinya.

Kemudian Allah berfirman, ‘apa yang telah engkau kerjakan?’

orang tersebut menjawab, ‘aku berperang demi Engkau (Allah) hingga aku mati syahid.’

Kemudian Allah berfirman lagi, ‘Kamu berbohong! Kamu berperang karena kamu ingin dianggap sebagai pemberani.’ Dan memang telah dikatakan demikian. Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret orang tersebut hingga ia terlempar di api neraka.

Leave a Comment